Review Demon Slayer -Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles 2 (Switch)

Review Demon Slayer -Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles 2 (Switch)

Game Review
05 November 2026
6 views

Review Demon Slayer -Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles 2 (Switch): Rasanya Seperti Membawa Anime ke Mana-Mana

Catatan: review ini berdasarkan sekitar 3 jam bermain di Nintendo Switch (mode TV dan genggam), dengan Mode Cerita sampai Entertainment District Arc.

Pembuka

Demon Slayer sudah lama jadi salah satu anime paling dicintai, dan The Hinokami Chronicles 2 melanjutkan petualangan Tanjiro lewat Entertainment District Arc, Swordsmith Village Arc, dan Hashira Training Arc. Pertanyaannya: apakah game ini mampu menghadirkan kembali kualitas produksi anime-nya? Jawaban singkat dari kesan awal saya adalah ya, dengan beberapa catatan.

Mode Cerita: Seperti Menonton Ulang Anime yang Dimainkan Sendiri

Mode Cerita mengambil alur dari anime dengan cukup akurat, termasuk momen-momen ikonik seperti pertemuan dengan karakter-karakter baru. Pacing-nya terasa imbang, dan cutscene-nya membuat saya merasa sedang menonton anime yang dimainkan dengan tangan sendiri.

Emosi tersampaikan lewat animasi yang niat dan menggugah, sementara setiap skill tampil bombastis. Cerita juga tidak langsung dimulai dari nol: ada kilas balik singkat yang berguna untuk memahami konteks dan kemajuan perjalanan Tanjiro dari seri pertamanya.

Selain bertarung, ada unsur eksplorasi lewat peta bertema cerita yang mengacu pada anime. Di sinilah salah satu kelemahan game ini. Gameplay di bagian eksplorasi terasa sebatas jalan-jalan, dan pemain harus menuntaskan stage tertentu cukup lama sebelum kembali bertarung (setidaknya di Entertainment District Arc). Dibanding level open world atau RPG dengan cerita yang dalam, Mode Cerita di sini masih sederhana, lebih dekat ke rangkaian cutscene dan kilas balik.

Ramah untuk yang belum nonton anime? Saya sendiri tidak mengikuti anime secara utuh, hanya movie-nya, dan tetap enjoy. Game ini bisa dinikmati tanpa harus menamatkan animenya. Spoiler tentu ada, misalnya kematian salah satu karakter. Bagi penonton anime itu sudah diketahui, tetapi bagi pemain baru justru jadi kejutan penuh tensi.

Gameplay & Mode VS: Mudah Dipelajari, Layak Digali

Sistem pertarungannya sangat mudah dikuasai berkat tutorial pembuka yang membantu. Fitur baru seperti Dual Ultimates dan Gear terasa menambah lapisan strategi, tetapi perlu waktu lebih lama untuk benar-benar melihat perbedaan kekuatan dan skill tiap karakter.

Dari 40+ karakter, favorit saya tentu Tanjiro. Ia bisa memanggil Nezuko di tengah pertandingan, dan animasi Pernapasan Air-nya benar-benar menghanyutkan, seperti sedang dimanjakan sebagai tokoh utama. Keseimbangan antarkarakter, termasuk para Hashira, terasa cukup imbang.

Untuk mode offline, lawan CPU lumayan menantang. Saya sempat kalah di best of 3, tetapi dengan sedikit kerja keras akhirnya bisa menang.

Online: Sulit Menemukan Lawan

Ini poin yang cukup mengecewakan. Saya mencoba mencari lawan online dan, setelah menunggu lama, belum juga mendapat pertandingan. (Saya sudah langganan Nintendo Switch Online (NSO) untuk ini, loh.)

Mungkin pemain perlu bergabung ke komunitas untuk menemukan teman main. Ingat juga bahwa bermain online memerlukan keanggotaan Nintendo Switch Online dan patch terbaru.

Visual, Audio & Performa: Anime di Genggaman

Gaya visualnya setara anime, dan 60 fps sangat memanjakan mata. Rasanya seperti membawa anime ke mana-mana. Saya memainkannya saat cuti kerja dan game ini mengisi waktu kosong di perjalanan.

Dua mode bermain punya karakter masing-masing: di TV pengalamannya jauh lebih menyenangkan, terasa seperti menonton anime, sedangkan mode genggam menawarkan mobilitas yang mengasyikkan. Frame rate dan waktu loading baik di keduanya. Fleksibilitas inilah yang membuat kehadiran game ini di Switch terasa menguntungkan.

Untuk audio, saya menyarankan dubbing Jepang dengan subtitle Inggris. Saya sempat memakai dub Inggris, tetapi rasanya kurang anime.

Soal ukuran, game ini memakan 15,1 GB. Saya harus menghapus dua sampai tiga game lain, tetapi menurut saya worth it.

Posisi di Antara Game Fighting Anime

The Hinokami Chronicles 2 tetap masuk tier atas game fighting anime. IP Demon Slayer sudah punya tempat di hati penggemar berkat kualitas produksi animenya, dan game ini menjaga kualitas yang serupa.

Kelebihan & Kekurangan

Kelebihan

  1. Cerita setia pada anime, terasa seperti menonton ulang dengan kilas balik singkat yang berguna untuk memahami konteks dan kemajuan petualangan Tanjiro.
  2. Animasi skill mengagumkan, setara anime, dan mengejutkan pemain dengan desain visual yang memukau.
  3. Fleksibel di Switch: TV untuk rasa menonton anime, mode genggam untuk mobilitas.

Kekurangan

  1. Mode online sulit mencari lawan.
  2. Gameplay Mode Cerita di bagian eksplorasi hanya jalan-jalan, dan pemain harus menunggu lama menuntaskan stage sebelum kembali bertarung (di Entertainment District Arc).
  3. Belum tersedia bahasa Indonesia. Ini lebih ke saran daripada kritik, karena beberapa game anime lain sudah menyediakannya.

Kesimpulan

Kalau kamu penggemar anime, game ini wajib dicoba. Demon Slayer adalah salah satu anime papan atas saat ini, dan dukungan lewat pembelian game ini membantu peluang hadirnya seri berikutnya sampai ceritanya tamat seperti animenya. Karena animenya sudah tamat, penggemar bisa kembali menikmati cerita dan visual berkualitas lewat movie dan game ini.

Skor: 9/10

Mode Cerita masih sederhana, lebih banyak cutscene dan kilas balik ketimbang open world atau RPG dengan cerita yang dalam, ditambah mode online yang sulit mencari teman main. Namun sebagai pengalaman "anime yang bisa dimainkan", game ini sangat memuaskan.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.