8 Beda Liu Bei di Dynasty Warriors dan Sejarah Samkok, Tidak Selalu Benevolent!

8 Beda Liu Bei di Dynasty Warriors dan Sejarah Samkok, Tidak Selalu Benevolent!

Games
29 October 2026
6 views

Penggemar Dynasty Warriors pastinya nggak asing dengan sosok Liu Bei, pemimpin Shu Han yang dikenal "benevolent" alias mulia, bijaksana, baik hati, dan selalu mengutamakan rakyatnya. Tapi, tahukah kamu kalau Liu Bei dalam sejarah ternyata nggak sebaik yang digambarkan dalam game maupun novel Samkok? Apa saja tingkah Liu Bei yang membuatnya sangat berbeda dari cerita Dynasty Warriors? Ini delapan hal mengejutkan yang terungkap dari catatan sejarah!

Catatan: Artikel ini membandingkan catatan sejarah Sanguozhi dengan novel Samkok atau Romance of the Three Kingdoms dan alur Dynasty Warriors.

Perbedaan Liu Bei di Novel Samkok, Catatan Sanguozhi, dan Dynasty Warriors

1. Sumpah Persaudaraan di Kebun Persik Tidak Pernah Terjadi?

Salah satu momen paling ikonis dalam Dynasty Warriors adalah ketika akhirnya Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei mengucapkan sumpah persaudaraan mereka di kebun persik untuk hidup dan mati bersama demi menyelamatkan Dinasti Han.

Meski sangat memorable, peristiwa Sumpah Kebun Persik atau Oath of the Peach Garden sebenarnya tidak pernah tercatat dalam Sanguozhi. Kisah tersebut melainkan hanya sebuah rekaan dalam versi novel Samkok. Tapi bukan berarti persahabatan mereka sepenuhnya fiktif.

Catatan Sanguozhi memang menyebutkan kalau hubungan Liu Bei dengan Guan Yu dan Zhang Fei sangatlah dekat bagaikan saudara kandung. Hanya saja, upacara sumpah yang sangat dramatis di bawah pohon persik nampaknya tidak pernah terjadi dalam sejarah Tiongkok sendiri. 

2. Dianggap Pemimpin yang Sabar, Liu Bei Pernah Menghajar Pejabat Pemerintah Sampai 200 Kali

Dalam kisah Dynasty Warriors, Liu Bei kerap digambarkan sebagai pemimpin yang bijaksana – tenang, sabar, dan lebih memilih menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Urusan marah-memarahi justru lebih sering diwakili oleh Zhang Fei. Padahal, ada satu kejadian sejarah yang menunjukkan sisi temperamental Liu Bei.

Hal ini terjadi ketika dia bekerja sebagai pejabat daerah di Anxi, kini bagian Provinsi Hebei di Tiongkok Utara. Liu Bei mendapat kabar kalau pemerintahan Dinasti Han ingin memberhentikan sejumlah pejabat daerah dan terancam kehilangan jabatan.

Saat seorang inspektur pemerintah datang ke Anxi, Liu Bei menduga dirinya akan menjadi salah satu pejabat yang dicopot. Dia pun berusaha menemui inspektur tersebut untuk meminta penjelasan, tapi permintaannya kerap ditolak dengan alasan sang inspektur sedang sakit. Liu Bei yang kehilangan kesabaran pun mendatangi penginapan inspektur tersebut, mengaku mendapat perintah untuk menangkapnya, lalu mengikat dan membawanya keluar kota.

Liu Bei kemudian dikatakan menghajarnya menggunakan tongkat bambu sebanyak 200 kali sebelum akhirnya melepaskan jabatannya sendiri. Novel Samkok kemudian mengubah kejadian tersebut justru menjadi hal yang dilakukan oleh Zhang Fei. Liu Bei malah dibuat menjadi orang yang menghentikan tindak kekerasan itu.

3. Liu Bei Bukan Cuma Memikirkan Rakyat, Tapi Juga Mengincar Kekuasaan

Kalau mengikuti cerita Dynasty Warriors, Liu Bei digambarkan sebagai sosok “benevolent” alias mulia; selalu mengatakan kalau dia berjuang demi rakyat dan ingin mengembalikan perdamaian ke negeri Tiongkok yang dilanda peperangan saudara. Ambisinya terlihat sangat terpuji dibandingkan Cao Cao yang hanya mengutamakan kekuatan dan dominasi.

Namun, dalam sejarah Sanguozhi, diceritakan kalau Liu Bei juga berusaha keras membangun kekuatan politiknya sendiri. Terlihat dari bagaimana sepanjang hidupnya, Liu Bei sering berpindah-pindah perlindungan dan menjalin hubungan dengan sejumlah penguasa, mulai dari Gongsun Zan, Tao Qian, Cao Cao, Yuan Shao, hingga Liu Biao. Dia juga terus mencari cara untuk mendapatkan wilayah untuk dijadikan basis kekuasaannya.

Puncaknya terjadi pada tahun 221, ketika Liu Bei mengangkat dirinya sebagai kaisar Shu Han setelah runtuhnya Dinasti Han Timur. Meski mengklaim ingin melanjutkan legitimasi Dinasti Han, langkah tersebut juga memperlihatkan ambisi politiknya. Jadi, Liu Bei bukan sekadar pemimpin idealis yang menginginkan perdamaian, tetapi juga politikus culas yang tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan. 

Top up ML dapat double 2x Recharge Bonus? Manfaatkan promo First Top-up Only Diamonds bonus 100% dengan langsungtop up MLBB melalui Dunia Games! Syarat dan ketentuanberlaku.

Liu Bei Lore Dynasty Warriors

4. Pusat Kerajaan Shu Han Hasil Merebut Wilayah Milik Kerabatnya Sendiri?

Bicara soal mencari wilayah kekuasaan dan pintar mencari celah, salah satu keberhasilan terbesar Liu Bei dalam sejarah justru berasal dari konflik dengan sesama anggota klan Liu. Catatan Sanguozhi menyebutkan pada tahun 211, Liu Bei diundang oleh penguasa Provinsi Yi, Liu Zhang, untuk membantunya menghadapi serangan dari wilayah utara.

Akan tetapi, hubungan kedua pemimpin pasukan kemudian memburuk. Liu Bei kemudian berbalik melawan Liu Zhang untuk merebut wilayahnya. Setelah melalui pertempuran panjang, Zhang akhirnya menyerah dua tahun sejak kedatangan Bei. Liu Bei pun berhasil menguasai Chengdu dan menjadikan Provinsi Yi sebagai pusat kekuatannya. Dengan kata lain, kerajaan Shu Han yang kita kenal dalam Dynasty Warriors ternyata dibangun karena Liu Bei cekcok sama orang yang mengundangnya sebagai sekutu.

5. Dikejar Cao Cao, Liu Bei Malah Meninggalkan Istri dan Anak-anaknya

Selain konflik kerabat itu, Pertempuran Changban di tahun 208 menjadi salah satu momen paling terkenal dalam kisah Samkok dan Dynasty Warriors. Bagaimana Liu Bei digambarkan berusaha melindungi rakyat yang melarikan diri dari pasukan Cao Cao. Bagian tersebut memang dibuat berdasarkan kejadian sejarah ketika Liu Bei harus membawa rombongan pengungsi sehingga pergerakan pasukannya melambat. Namun, ada detail yang membuat kisah ini jauh lebih rumit.

Ketika pasukan Cao Cao berhasil menyusul dan menghancurkan pertahanan pasukannya, Liu Bei melarikan diri bersama sejumlah pengikut. Dalam kekacauan tersebut, tapi dia meninggalkan istri dan anak-anaknya. Beruntung, Zhao Yun kemudian berhasil menyelamatkan putra Liu Bei, Liu Shan, beserta istrinya, Lady Gan.

6. Tidak Peduli Bawahan, Liu Bei Mengorbankan Ribuan Pasukan Demi Membalas Kematian Guan Yu

Kematian Guan Yu di tangan Wu merupakan salah satu titik balik terbesar dalam kisah Dynasty Warriors. Dalam catatan sejarah Sanguozhi, keputusan tersebut berujung pada Pertempuran Yiling pada tahun 221-222. Dibutakan amarah, Liu Bei memimpin pasukan besar untuk menyerang wilayah Wu. Sejarawan Barat Rafe de Crespigny menyebutkan kalau diperkirakan dia memimpin 40.000 tentara Shu dan Sanguozhi menambahkan kalau Liu Bei bahkan didukung oleh masyarakat Wulin, termasuk pasukan milik Shamoke.

Tapi rencana invasinya berakhir dengan kekalahan fatal setelah pasukan Lu Xun melancarkan serangan balasan yang menghancurkan posisi tentara Shu. Hal itu menjadi pukulan berat bagi Liu Bei. Dia terpaksa mundur ke Baidicheng dan meninggal dunia pada tahun 223, tanpa berhasil membalas kematian Guan Yu maupun merebut kembali wilayah Jing. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Liu Bei yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana ternyata juga bisa mengambil keputusan militer berisiko tinggi ketika menghadapi persoalan pribadi dan politik.

7. Pernikahan Liu Bei dengan Sun Shangxiang Penuh Ketegangan

Hubungan Liu Bei dan Sun Shangxiang dalam Dynasty Warriors sering ditampilkan dengan unsur romantis, bagaimana dua sosok dari pihak berbeda bisa mengikat hati bagaikan cerita sinetron Bukan Romeo dan Juliet. Namun, menurut catatan sejarah Sanguozhi, hubungan mereka hanyalah bagian dari aliansi politik antara Liu Bei dan Sun Quan.

Pernikahan yang berlangsung sekitar tahun 209 tersebut ternyata jauh dari kata harmonis. Lady Sun, sebutan Sun Shangxiang, dikenal memiliki kepribadian keras dan selalu diiringi oleh seratus pelayan perempuan yang dipersenjatai dengan pedang. Kehadiran mereka membuat Liu Bei merasa tidak nyaman, bahkan dikisahkan selalu merasa takut setiap kali memasuki kamar istrinya.

Ketegangan ini bukan sekadar masalah rumah tangga. Sebagai adik Sun Quan, Lady Sun memiliki pengaruh politik tersendiri. Rombongan pengikutnya juga dikenal bersikap arogan dan melanggar aturan di wilayah kekuasaan Liu Bei. Situasi tersebut sampai membuat Liu Bei menugaskan Zhao Yun untuk mengawasi urusan di kediamannya dan menjaga ketertiban.

Puncak ketegangan suami-istri terjadi sekitar tahun 211, ketika Sun Quan mengirim kapal untuk menjemput adiknya kembali ke wilayah Wu. Di saat itu, Sun Shangxiang ternyata berusaha membawa Liu Shan, putra Liu Bei dari istri sebelumnya, bersamanya. Tindakan tersebut berpotensi menjadikan Liu Shan sebagai sandera politik yang sangat berharga bagi pihak Wu.

8. Dikritik Karena Berpesta Pora, Liu Bei Malah Baper?

Kisah-kisah fiktif sering menggambarkan Liu Bei sebagai pemimpin yang penuh kebajikan dan enggan menumpahkan darah demi merebut kekuasaan. Namun, Sanguozhi mencatat kalau dia juga pernah menggelar pesta untuk merayakan kemenangan dan mengusir panglimanya saat dikritik.

Peristiwa ini merupakan bagian dari pertempurannya dengan Liu Zhang, sang penguasa Provinsi Yi. Usai berhasil menguasai Fucheng di Sichuan, Liu Bei langsung mengadakan jamuan besar dengan minuman keras dan musik untuk merayakan keberhasilan tersebut. Dia kemudian menanyakan penasihatnya, Pang Tong, apakah dia menikmati perayaan ini. Bukannya ikut bergembira, Pang Tong justru memberikan jawaban pedas.

Dia mengatakan bahwa merayakan keberhasilan dari merebut milik orang lain bukanlah tindakan yang pantas dilakukan oleh seorang pemimpin berbudi luhur. Mendengar kritikan tersebut, Liu Bei sontak tersinggung. Dia membandingkan tindakannya dengan Raja Wu dari Zhou, tokoh sejarah Tiongkok yang juga merayakan keberhasilan mengalahkan penguasa lain, dan mempertanyakan apakah Raja Wu juga bukan orang yang berbudi luhur. Dia kemudian mengusir Pang Tong dari pesta tersebut.

Itulah delapan perbedaan Liu Bei dalam Dynasty Warriors, novel Samkok, dan catatan sejarah aslinya. Ternyata, sosok pemimpin yang dikenal penuh kebajikan ini juga punya sisi ambisius dan temperamental. Dari terungkapnya hal ini, menurutmu, siapa pemimpin terbaik di era Tiga Kerajaan: Liu Bei, Cao Cao, atau Sun Quan?

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube Dunia Games. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.