Review SILENT HILL: Townfall, Awalnya Saya Kira Bakal Banyak Lawan Monster, Ternyata...

Review SILENT HILL: Townfall, Awalnya Saya Kira Bakal Banyak Lawan Monster, Ternyata...

Review
28 September 2026
6 views

 

  • Review SILENT HILL: Townfall ini membahas gameplay dan skor 9/10.
  • Ini adalah judul first-person pertama dalam sejarah seri SILENT HILL, meski tetap mempertahankan tema inti horor psikologis.
  • Seri SILENT HILL secara keseluruhan telah terjual lebih dari 17,8 juta kopi di seluruh dunia (data per akhir Juni 2026).
  • Trailer peluncuran: https://youtu.be/X-Ett5iDxXs.
  • Untuk kebutuhan gaming dan digital sehari-hari, kamu bisa melakukan top up Google Play di Dunia Games.

SILENT HILL: Townfall ternyata bukan game yang membuat saya sibuk menghajar monster. Setelah beberapa jam memainkannya, saya justru lebih sering dibuat bingung, penasaran, dan merasa benar-benar sendirian di sebuah kota yang sudah lama ditinggalkan manusia.

Awalnya saya kira SILENT HILL: Townfall akan fokus bertarung dengan monster. Ternyata, gameplay-nya justru lebih seru ketika saya harus memecahkan puzzle, mencari petunjuk kecil, dan mencoba memahami dunia yang terasa dingin serta penuh misteri.

Game ini membawa pemain ke St. Amelia, sebuah lokasi terpencil di Skotlandia. Saya bermain sebagai Simon Ordell, seseorang yang terdampar di pinggir pantai dengan ingatan yang tidak utuh.

Tidak ada sambutan dari NPC. Tidak ada karakter yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Yang saya temukan sejak awal hanya suara deburan ombak, kabut tebal, bangunan kosong, dan rasa penasaran tentang bagaimana saya bisa sampai di tempat tersebut.

Buat saya, pengalaman ini bahkan terasa lebih membingungkan dibandingkan SILENT HILL f. Kalau di game tersebut saya masih mendapatkan gambaran cerita sejak awal, Townfall justru membuat saya benar-benar clueless.

Dan ternyata, rasa bingung tersebut memang menjadi bagian dari keseruannya.

Terasa Seperti Benar-Benar Terdampar di SILENT HILL: Townfall

Salah satu keputusan paling menarik dari SILENT HILL: Townfall adalah penggunaan perspektif first-person secara penuh. Perspektif ini membuat saya merasa seperti benar-benar dikirim ke St. Amelia dan harus mencari jalan keluar sendiri.

Deburan ombak yang terdengar dari pinggir pantai, kabut yang menutup pandangan, serta suasana kota yang kosong membuat eksplorasi terasa sangat berbeda.

Tidak adanya manusia lain justru menjadi salah satu sumber ketegangan terbesar.

Saya berjalan melewati jalanan kosong, masuk ke toko dan rumah yang bisa dimasuki, lalu mencari ruangan yang mungkin menyimpan petunjuk. Sesekali saya juga menemukan tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi ketika monster mulai mendekat.

Tidak banyak hal yang benar-benar terlihat hidup di sana.

Namun, setiap sudut St. Amelia terasa seperti menyimpan sesuatu.

Itulah yang membuat saya terus berjalan. Saya ingin tahu apa yang ada di balik pintu berikutnya, ruangan berikutnya, atau benda yang terlihat sedikit berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Puzzle yang Membuat Saya Merasa Jenius

Kalau ada satu bagian yang paling saya puji dari SILENT HILL: Townfall, jawabannya adalah puzzle.

Puzzle di game ini terasa benar-benar menyatu dengan dunianya. Kamu tidak bisa sekadar mencari objek yang menyala atau mengikuti penanda menuju lokasi berikutnya.

Kamu harus masuk ke dunia yang dibuat oleh game ini.

Setiap petunjuk perlu diperhatikan. Detail kecil yang awalnya terlihat tidak penting bisa menjadi bagian dari jawaban.

Saat berhasil memecahkan satu puzzle setelah memperhatikan detail tersebut, ada kepuasan yang sulit dijelaskan.

Rasanya seperti, “Oh, ternyata jawabannya dari tadi ada di depan mata.”

Di situlah Townfall berhasil membuat saya merasa pintar.

Bukan karena puzzle-nya memberikan jawaban dengan mudah, tetapi karena game ini memberikan cukup informasi untuk membuat pemain menemukan jawabannya sendiri.

CRTV yang digunakan Simon juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Perangkat ini berkaitan dengan memori Zoe dan memberikan petunjuk yang membantu pemain memahami puzzle serta kejadian yang sedang berlangsung.

Saya justru menikmati momen ketika harus berhenti berjalan, memperhatikan informasi yang ada, lalu menghubungkan satu petunjuk dengan petunjuk lainnya.

Combat Sengaja Dibuat Tidak Terasa Seperti Game Aksi

Kalau kamu datang ke SILENT HILL: Townfall dengan ekspektasi pertarungan monster besar-besaran, mungkin pengalamanmu akan sedikit berbeda.

Combat di game ini terasa terbatas.

Simon seperti pasien yang baru selesai diinfus, lalu tiba-tiba disuruh bertahan hidup hanya dengan membawa balok kayu.

Senjata tersebut membuat pertarungan terasa kasar dan sederhana. Saya tidak pernah merasa seperti karakter yang sangat kuat.

Ketika monster datang, pilihan saya sering kali bukan “bagaimana cara membunuh semuanya?”, melainkan “bagaimana saya bisa selamat dari situasi ini?”

Bahkan dengan pendekatan tersebut, saya beberapa kali tetap pingsan karena terkena serangan monster.

Yang menarik, efeknya ke diri saya cukup terasa.

Setiap kali Simon terkena serangan, jantung saya ikut berdegup lebih kencang. Ada rasa tegang yang muncul secara spontan, sampai bulu kuduk saya berdiri.

Perspektif first-person benar-benar membantu bagian ini.

Serangan monster terasa lebih dekat karena saya melihat semuanya dari sudut pandang Simon. Saya tidak merasa sedang mengendalikan karakter dari luar, melainkan seperti ikut berada di posisi orang yang sedang diserang.

Desain Monster di SILENT HILL: Townfall

Desain monster di SILENT HILL: Townfall tetap berhasil membuat saya tidak nyaman. Namun, pendekatannya berbeda dari SILENT HILL f.

Kalau Silent Hill f punya desain monster yang bisa terasa sangat menjijikkan dan mengganggu secara visual, monster di Townfall lebih terasa sangar dan mengintimidasi.

Mereka tetap punya desain yang membuat saya tidak ingin terlalu lama berhadapan dengannya.

Kehadiran monster juga terasa lebih efektif karena St. Amelia sendiri sudah sangat sepi.

Ketika sedang sendirian menjelajah rumah atau toko, kemunculan ancaman bisa langsung mengubah suasana.

Ruangan yang sebelumnya terasa aman tiba-tiba menjadi tempat untuk mencari jalan keluar.

Saya bahkan beberapa kali lebih sibuk mencari pintu untuk bersembunyi daripada mencari cara untuk melawan.

Pindah dari Simon ke Zoe Bikin Saya Harus Beradaptasi Lagi

Salah satu bagian yang cukup membuat saya perlu beradaptasi adalah ketika perspektif berpindah dari Simon ke Zoe.

Saat bermain sebagai Simon, saya sudah mulai terbiasa dengan cara bertahan hidup. Saya punya balok kayu, memahami bagaimana ancaman bekerja, dan mulai mengenali ritme eksplorasinya.

Kemudian game membawa saya ke perspektif Zoe.

Rasanya seperti mengulang dari awal.

Saya kembali menjadi manusia tanpa senjata dan harus lebih fokus pada eksplorasi serta puzzle.

Awalnya saya cukup kesulitan beradaptasi dengan perubahan tersebut. Namun, setelah mulai memahami ritmenya, perpindahan ini justru membuat pengalaman terasa berbeda.

Masalahnya, bagian Zoe malah membuat saya semakin banyak bertanya.

Jawaban yang saya harapkan tidak langsung datang.

Pertanyaan baru justru bermunculan.

Akhirnya saya merasa perlu membangun mood dan mental lagi sebelum melanjutkan perjalanan Zoe.

Buat saya, itu justru salah satu hal yang membuat cerita Townfall menarik. Game ini tidak terburu-buru memberikan semua jawabannya.

Atmosfer Dingin yang Konsisten

Atmosfer menjadi alasan terbesar mengapa saya bisa terus bermain meskipun sering dibuat bingung.

St. Amelia terasa dingin, kosong, dan jauh dari kehidupan manusia.

Tidak ada keramaian yang bisa membuat saya merasa aman.

Yang terdengar adalah lingkungan sekitar, suara langkah kaki, deburan ombak, dan berbagai suara yang membuat saya bertanya-tanya apakah ada sesuatu di sekitar.

Kabut juga menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.

Pandangan yang terbatas membuat saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di depan.

Saya bisa saja sedang berjalan menuju sebuah bangunan, tetapi tetap merasa tidak yakin dengan apa yang akan ditemukan di dalamnya.

Konsistensi inilah yang saya suka.

Dari awal sampai bagian yang sudah saya mainkan, Townfall mampu mempertahankan rasa dingin, sepi, dan tegang tanpa harus terus-menerus memberikan kejutan.

Kesimpulan

SILENT HILL: Townfall berhasil membuat saya menyadari bahwa horor tidak selalu membutuhkan pertarungan besar.

Kadang, rasa takut justru muncul ketika kamu sendirian di sebuah kota kosong, tidak memahami apa yang terjadi, lalu dipaksa mencari jawaban dari detail-detail kecil.

Puzzle menjadi salah satu kekuatan terbesar game ini. Ketika berhasil memecahkannya, ada kepuasan karena jawaban tersebut terasa seperti hasil pengamatan sendiri.

Perspektif first-person juga membuat pengalaman horornya terasa lebih dekat. Ketika Simon diserang monster, saya bisa merasakan ketegangannya secara langsung.

Perpindahan perspektif ke Zoe memang membutuhkan adaptasi, terutama karena gaya bermainnya membuat saya kembali berada dalam posisi yang lebih rentan. Namun, perubahan tersebut juga memperluas misteri dan membuat saya semakin penasaran dengan cerita yang sedang dibangun.

SILENT HILL: Townfall adalah game yang membuat kamu tersesat, sendirian, dan terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Kelebihan

  • Atmosfer horor yang dingin, sepi, dan konsisten.
  • Perspektif first-person membuat pengalaman terasa imersif.
  • Puzzle cerdas dan memberikan kepuasan ketika berhasil dipecahkan.
  • Eksplorasi St. Amelia mendorong pemain memperhatikan lingkungan.
  • Desain monster tetap sangar dan menakutkan.
  • Cerita berhasil membuat penasaran tanpa buru-buru memberikan semua jawaban.

Kekurangan

  • Perpindahan POV Simon ke Zoe membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
  • Combat terasa sangat terbatas bagi pemain yang mengharapkan pengalaman aksi.

Skor: 9/10

SILENT HILL: Townfall menunjukkan bahwa horor bisa terasa sangat kuat ketika game membuat pemain merasa sendirian dan tidak berdaya. Saya datang dengan ekspektasi akan lebih banyak pertarungan melawan monster, tetapi justru puzzle, eksplorasi, dan atmosfer St. Amelia yang membuat saya terus ingin mengetahui apa yang terjadi berikutnya.

silent hill townfall

Informasi Rilis SILENT HILL: Townfall

  • Tanggal rilis: 24 September 2026
  • Platform: PlayStation®5, Steam®, dan Epic Games Store
  • Developer: Screen Burn Interactive (studio asal Glasgow, Skotlandia — sebelumnya bernama No Code, didirikan 2015, dikenal lewat Stories Untold dan Observation yang meraih BAFTA)
  • Publisher: Annapurna Interactive bersama KONAMI

Premis Cerita

Pemain berperan sebagai Simon Ordell, seorang pendatang yang terdampar di dermaga "St. Amelia" — sebuah pulau terpencil dan dingin di lepas pantai Skotlandia. Kota tersebut diselimuti kabut tebal, dihuni oleh kehadiran-kehadiran masa lalu dan pecahan ingatan, sehingga batas antara kenyataan dan fiksi menjadi kabur. Gameplay menekankan eksplorasi kota secara imersif, pemecahan teka-teki yang terjalin dengan alur cerita, momen bersembunyi dari ancaman, serta pertarungan hidup-mati.

Bonus Pre-order / Early Purchase

Standard Edition:

  • CRTV Style: Rusted
  • CRTV Style: Beach Edition (eksklusif PS5)

Deluxe Edition (+Pre-order):

  • Digital Artbook
  • Digital Soundtrack
  • Simon's Outfit: Alternate
  • Akses awal 48 jam
  • CRTV Style: Rusted
  • CRTV Style: Beach Edition (eksklusif PS5)

Kanal Resmi

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook dan Instagram Dunia Games ya. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.