Peluang RRQ Juara FFWS SEA 2026 Fall Sirna, Elegi Perjuangan Sang Raja!

Peluang RRQ Juara FFWS SEA 2026 Fall Sirna, Elegi Perjuangan Sang Raja!

Free Fire
29 September 2026
8 views
  • Bigan Dirgantara soroti masalah “hobi perang” RRQ Kazu.
  • RRQ dinilai terlalu over-commit dalam setiap pertarungan.
  • Bigan menyarankan RRQ untuk bisa menyeimbangkan keunggualan antara cara menyerang dan cara mereka bertahan.
  • Peluang RRQ juara FFWS SEA 2026 Fall sirna karena masalah late game yang menjadi sandungan bagi Sang Raja.
  • Ayo top up diamond FF kalian di Dunia Games sekarang.

Penulis: Cristian Wiranata Surbakti | Editor: Yosia Karisma Putra

Kesempatan RRQ juara FFWS SEA 2026 Fall sirna usai Abaay dan kawan-kawan dihantam oleh Bigetron by Vitality di game ke-12. RRQ Kazu kembali harus menelan antiklimaks, gelar di depan mata pun kembali jatuh ke tangan lawan. Lagi dan lagi, Sang Raja harus tunduk tanpa mahkota. Lantas, apa yang membuat peluang RRQ juara FFWS SEA 2026 Fall sirna? Mari simak interview eksklusif Dunia Games (DG) bersama Caster Bigan Dirgantara berikut ini.

Masalah RRQ Kazu di FFWS SEA 2026 Fall, Bigan Kritik Soal “Hobi Perang” Sang Raja

Eksklusif bersama Dunia Games (DG), Bigan mengatakan jika masalah RRQ Kazu di FFWS SEA 2026 Fall adalah Sang Raja tampak “Hobi Perang” di medan tempur. Menurut Bigan, hal tersebut bisa menjadi ‘pedang bermata dua’ yang mengkhawatirkan. “Apa yang ada di pikiran saya soal RRQ itu mereka over cari poin kill, sampai akhirnya kemakan sama permainan (mereka) sendiri. Dalam artian, untuk nyari BOOYAH di momen-momen penting itu jadinya susah karena mereka tidak membiasakan hal tersebut,” ucap Bigan.

“Apa yang dilakukan oleh RRQ menurut saya pribadi bagus bagus saja. Buat nyari poin eliminasi banyak juga bagus banget. Jadi buat mendongkrak poinnya lebih cepat, hanya saja saya selalu beranggapan bahwa permainan dengan agresif (mencari) poin kill itu tidak bisa selalu diandalkan,” tuturnya. Bigan menambahkan, selain beresiko tinggi ancaman lainnya adalah tim-tim yang dihadapi oleh RRQ Kazu bukan lawan yang tergolong mudah.

RRQ Kazu - FFWS SEA 2026 Fall

“Terlalu banyak faktor X yang harus bisa mendukung cara mereka main seperti itu. Misalkan target 20 kill dengan BOOYAH, yang kita tahu juga adalah yang dilawan (mereka) pun bukan tim-tim yang dalam tanda kutip ‘jelek’ begitu. Bukan tim-tim yang baru main, tapi mereka juga punya pattern, punya gaya main, punya pola reset dan lain sebagainya itu yang harus kita ketahui,” ujar Bigan menambahkan. 

“Contoh paling kecilnya adalah kalau misalkan RRQ perang terus di Fire Brigade lawan Team Falcons, dan perangnya itu tidak bisa selesai di bawah 5 menit (lalu) misalkan RRQ-nya reset terus di atas menit 4 balik lagi ke arah sebelah sana mungkin secara pride memang menang (mereka) kuasain pulau bawah. Cuma, jadinya adalah untuk masuk ke dalam zonanya dua kali saya melihat RRQ harus mati di (area) rumah tenda di depan jembatan dari Arah Fire Brigade.”

Team Falcons - FFWS SEA 2026 Fall

“Nah hal-hal seperti itu tuh yang akhirnya membuat RRQ-nya susah buat masuk ke dalam zona selanjutnya. Susah buat dapetin BOOYAH atau at least kita mikirin bagaimana caranya dapetin BOOYAH. Kalau misalkan kita dari awal mikirin (tentang) banyak kill, yang dipikirin di dalam game jadinya banyak. Kalau memang dari awal kita mikirnya itu ke sana saja, bukan cuma poin di eliminasi.” kata Bigan.

Eksekusi Late Game Masih Jadi “Penyakit” RRQ Kazu, Sang Raja Harus Lebih Cermat!

Bigan mengungkapkan tidak ada cela dari gaya bermain RRQ Kazu. Namun, eksekusi di late game masih menjadi “Penyakit” bagi Sang Raja. Bigan berasumsi jika faktor format turnamen pada akhirnya membuat RRQ Kazu punya habit “suka perang” dan mengumpulkan poin eliminasi yang banyak sama seperti tim lainnya. “Saya ngerasa permainan RRQ ga ada yang salah sebetulnya. Karena (main) agresif bagus, late game bagus tinggal eksekusi BOOYAH saja dari dulu itu harus bagaimana. (Mereka) harus bisa dihadapkan dengan situasi, 10 tim di late game terus ada 3 tim di satu compound yang sama dan harus cari tahu bagaimana caranya keluar dari situasi sulit seperti itu,” ungkap Bigan.

Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall

“Format turnamen itu berpengaruh banget yang akhirnya membuat mindset banyak tim juga (berpikir) ‘yaudah di awal-awal kita main galak aja’ dalam tanda kutip seperti ‘mati di hastag 8 sekalipun tidak masalah kalau sudah punya poin kill banyak juga tetap di atas’. Akhirnya membuat tim tidak terbiasa, bukan cuma RRQ banyak tim tidak terbiasa kalau dihadapkan di situasi menit ke-13, ke-14 masih (ada) 12 tim tidak terbiasa ‘ngendok’ dan main rapi (dengan) 4 orang di late game,” jelasnya. 

“Karena kebiasaan mereka ya begitu, kalau sudah late game (dengan) 3 tim (atau) 4 tim terus muter-muter di zona terakhir. Jadi tidak terbiasa mereka untuk handle situasi di mana di satu compound/area ada 3 sampai 4 tim begitu yang susah. Karena memang format turnamennya sama scrimnya tidak diatur untuk membiasakan tim-tim seperti itu.” Bigan mengatakan RRQ pun pada akhirnya harus belajar bermain objektif dengan ‘ngendok’ dan lebih cermat dalam menangani situasi di late game.

“Saya rasa pada akhirnya juga semua tim akan dipaksa buat main ‘ngendok’ (atau) main aman kalau plan pertamanya gagal mereka lakukan begitu. RRQ juga melakukan hal yang sama, RRQ juga akhirnya tidak over-commit perang dari menit awal sampai menit ke-10 baru mereka masuk ke dalam zona. Akhirnya semua tim juga main ‘ngendok’ itulah yang saya bilang supaya (RRQ) tidak kaget dengan situasi final yang seperti ini, orang-orang itu harus terbiasa buat main ‘ngendok’ dulu,”

“Main ‘ngendok’ dalam artian bukan berarti tidak dapat kill di awal-awal terus cuma diem doang di satu compound, tidak. Tapi, si pemain terbiasa (menentukan) apa yang harus mereka lakuin, apa yang harus mereka targetkan begitu. Apa saja yang harus sudah mereka bawa, perbekalan segala macam. Kalau saya rasa, perubahan dari RRQ ini di game-game selanjutnya adalah: Satu, perubahan yang seharusnya (membuat) mereka itu sudah sadar, sudah tahu bahwa ini yang diperluin di dalam sebuah tim bukan hanya tentang kita bisa perang, hal-hal (seperti) ‘ngendok’ begini juga bisa jadi perhatian,”

“Jangan cuma menguatkan ego mental buat perang pertahanin teritori, tapi mental ‘ngendok’ juga harus punya. Dan banyak tim orang yang kebiasaan perang mereka punya mental semangat juang yang tinggi, diajak ‘ngendok’ akhirnya gengsi. Diajak (bermain) ‘ngendok’ jadinya tidak mendapatkan panasnya, orang-orang itu perang seperti RRQ mereka panas buat perang sampai akhirnya api perangnya itu terjaga. Tapi kalau apinya dikecilin, banyak tim yang tidak tahu bagaimana apinya tetap nyala tapi apinya kecil. Jadi ga ada mental buat main ‘ngendok’ ga ada mental buat main safe itu yang saya khawatirkan sebenarnya. RRQ butuh buat main ‘ngendok’ (dan) RRQ juga butuh buat main objektif buat dapetin zona, compound dan apinya tetap nyala,” paparnya.

RRQ Kazu - FFWS SEA 2026 Fall

Berkaca dari tim-tim yang kerap bermain agresif dan suka menyerang, Bigan pun mengatakan kalau tim yang bisa memanfaatkan strategi bertahan dengan baik justru sudah pernah meraih gelar juara dibandingkan yang tidak demikian. “Fun fact, tim yang biasa main ‘ngendok’ main safe tidak mau main banyak api seperti Buriram itu pencapaiannya lebih banyak. Sementara RRQ sama AG AL yang biasa mungkin kita lihat (bermain) meledak-ledak, dar der dor bisa dapetin 20 kill lebih ada tidak piala mereka selama (FFWS) SEA ini? Tidak ada, bukan? Itu maksud saya,” ucap Bigan.

Peluang RRQ Juara FFWS SEA 2026 Fall Cukup Besar, Bigan Sebut “Late Game” Kembali Jadi Sandungan!

Dari berbagai pandangan yang disampaikan, Bigan mengatakan peluang RRQ juara FFWS SEA 2026 Fall sebenarnya cukup besar dibandingkan tim-tim pesaing kala itu baik dari Bigetron by Vitality, GOW dan AG AL. Menurut Bigan, keputusan untuk tidak memilih bermain bertahan yang pada akhirnya menjegal RRQ Kazu. Masalah “Late Game” kembali menjadi sandungan, identitas “hobi perang” membuat para pemain tampak kesulitan atau kebingungan dalam mengambil keputusan.

“Kesempatan mereka (RRQ) untuk bisa mendapatkan BOOYAH itu jujur lebih besar daripada BTR sama AG AL. Karena di momen ketika sirkel terakhir itu, RRQ bergeraknya dari arah jalanan dan di samping jalan itu sebelum sampai ke sebuah rumah, ada satu patahan kecil dari arah rumput itu agak nanjak dikit (bentuknya),” ujar Bigan. “Dari arah Robo mereka diserang sama BTR, dari arah kanannya ditembakin AG AL sementara garis lurus mereka ada GOW (dan) yang tidak dilakukan RRQ adalah mengambil kompound di samping jalan.

“Ada sebuah rumah sama ada sebuah tumpukan karung warna coklat yang bisa mereka bikin menjadi sebuah compound. Tapi, yang terjadi adalah mereka dilumpuhkan (dan) mereka stand by di situ, ada momen di mana mereka menembak balas ke arah BTR yang bikin mereka telat, at least masuk ke arah rumah tersebut, atau di kompound karung-karung itu, mereka (bisa) ngeprone mereka bisa healing mereka bisa bagi informasi, bertukar resource beli lagi UAV yang saya maksud,” jelasnya.

“Kenapa mereka tidak masuk ke arah rumah setelah mereka kena tembakan dari AG? Setelah mereka kena tembakan dari BTR, dan di depannya mereka juga masih nembakin GOW mereka masih nakal nembakin BTR saya rasa buah dari di mana mereka punya mental untuk menyerang dan percaya diri dengan kekuatan mereka.” Terakhir, Bigan menyimpulkan bahwa kesulitan yang dialami oleh Abaay dan kawan-kawan sehingga peluang RRQ juara FFWS SEA 2026 Fall sirna adalah karena kurangnya kemampuan untuk bermain bertahan sebagai bagian dari eksekusi late game yang kurang baik.

Bigetron by Vitality - FFWS SEA 2026 Fall

“Ya itu dampak dari satu hal di mana mereka jarang main di late game. Mereka jarang ketemu di situasi banyak compound (atau) open field begitu karena mereka punya ego yang tinggi dalam menyerang. Dan saya rasa, koreksi kalau saya salah ego mereka untuk bertahan jadinya berkurang. Karena mereka terbiasa untuk menyerang, (ketika) dihadapkan di situasi satu match yang sangat penting yang bahkan kita tidak tahu bakal lanjut lagi atau tidak? Entah mereka ragu, mereka bingung, mereka kesulitan dalam hal apa pun itu dampak dari keseringan ‘main api’,” pungkasnya.

FAQ 

1. Ada Apa dengan RRQ Kazu?

RRQ Kazu gagal menjadi juara FFWS SEA 2026 Fall.

2. Seperti Apa Peluang RRQ Juara FFWS SEA 2026 Fall Menurut Bigan?

Menurut Bigan, peluang RRQ juara FFWS SEA 2026 Fall cukup besar dibandingkan Bigetron by Vitality dan AG AL. Namun, kesalahan dalam meramu strategi late game membuat Sang Raja tersungkur.

3. Mengapa Peluang RRQ Juara FFWS SEA 2026 Fall Sirna?

Menjadi satu dari empat tim yang bertahan, RRQ Kazu tumbang di tangan tim Bigetron by Vitality di game 12 FFWS SEA 2026 Fall.

Nantikan informasi-informasi menarik lainnya dan jangan lupa untuk ikuti Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube Dunia Games. Kamu juga bisa dapatkan voucher game untuk Mobile Legends, Free Fire, Call of Duty Mobile dan banyak game lainnya dengan harga menarik hanya di Top-up Dunia Games.